Seorang santriwati sedang sibuk di dalam kamar, tangan kanan menyibak
susunan buku di bagian atas lemari sedangkan tangan kiri merapihkan
ujung-ujung jilbab. Jarum jam sudah menunjukkan angka 7 kurang lima
menit, dari arah kantor sekolah suara bel bergema berulang kali,
teriakan bagian pengajaran di samping kamar menambah kecemasan. Hati si
santriwati semakin menciut mengingat pelajaran pertama hari ini diisi
oleh wali kelas.
Beberapa buah buku sudah melekat di tangan,
jilbab sudah dianggap rapih, saatnya meninggalkan kamar menuju ruang
kelas. Ketika kedua kaki santriwati melangkah keluar, seekor ayam
merangsek ke dalam kamar. Tidak ada seorang pun di dalam kamar, hanya
dia tersisa satu yang sedang diburu waktu. Terlintas sebentar dalam
benaknya untuk mengusir ayam yang sudah terlanjur dilihatnya masuk ke
dalam kamar, namun kegelisahan hati memaksanya pergi. Untuk mengobati
rasa bersalah yang bersarang dalam dada, logikanya berbicara 'perkara
ayam bukanlah kewajibannya, toh nanti ada bulis yang suka merapihkan
kamar. Biarlah si bulis yang memang sudah tugasnya mengusir ayam.'
Terdengar samar nuraninya menggerutu, "gimana klo bulis tidak datang?,
bisa saja ayam yang tidak pernah mengenal sopan santun itu mengacak-acak
seisi kamar bahkan bisa jadi meninggalkan bekas berupa kotoran". Sambil
memantapkan langkah, logika si anak perempuan yang sedang diburu waktu
tegas menyatakan, 'sekalipun ayam berak di dalam kamar, bukan urusan
saya toh sudah ada jadwal piket kamar'.
Degup jantungnya masih
kencang saat memasuki ruang kelas. Betapa bahagianya dia, mendapatkan
kursi depan yang biasa diisi ustadzah masih kosong melompong. Beberapa
saat setelah dia meletakkan buku di atas meja dan mengambil posisi
duduk, ustadzah baru masuk ruang kelas. Dalam benaknya terucap kalimat
indah, 'Alhamdulillah, berakhir sudah perjuangan ini dengan happy
ending'
Bel istirahat berdengung, ustdzah pelajaran ke tiga
menguluk salam. Sebagian besar santriwati meninggalkan ruang kelas,
meski ada beberapa yang masih duduk tenang menyelesaikan tulisan.
Fauziah santriwati yang hampir terlambat tadi termasuk kelompok yang
meninggakan ruang kelas. Perutnya keroncongan, tadi pagi belum sempat
diisi. Bergegas dia ke kamar mengambil uang untuk jajan di koperasi.
Sesampainya di kamar, Fauziah mendapatkan pintu lemarinya terbuka.
Kecurigaan akan adanya maling terbesit begitu saja dalam benaknya.
Santriwati yang sedang meraskan lapar tersebut segera melihat isi
lemari. 'Arggggg... dasar ayam tidak tahu diri!' Ternyata bukan maling
yang telah menjamah lemarinya, si ayam lah pelaku kejahatan itu. Seisi
lemari tumpah ruah dicekeri ayam, pakaiannya belepotan tanah basah dan
lebih parahnya lagi dia meninggalkan jejak yang sangat menjengkelkan
dalam rupa sebuah tahi otok yang masih hangat.
Sahabat sekalian,
beginilah jadinya klo kita sudah terlalu sibuk dengan urusan pribadi
sehingga mengikis rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Kesibukan
pribadi ternyata bisa menyebabkan ketidak pekaan yang pada akhirnya
berujung pada kesulitan. Sering kali kita mengabaikan sesuatu yang
dianggap menjadi kewajiban publik dengan dalil 'BUKAN URUSAN SAYA' atau
'ITU KEWAJIBAN SI ANU', padahal pada saat bersaman kita bisa
berkontribusi untuk menyelesaikannya. Mungkin pada saat ini kita belum
kena batunya, tapi jika hal ini terus terjadi bisa jadi kita akan
kebagian batunya. So sebelum merasakan tidka enaknya 'benjol' karena
kena batunya, mari kita evaluasi diri untuk kembali menumbuhkan social
sense.

