Selasa, 21 Februari 2012

Bukan Urusan Saya

Seorang santriwati sedang sibuk di dalam kamar, tangan kanan menyibak susunan buku di bagian atas lemari sedangkan tangan kiri merapihkan ujung-ujung jilbab. Jarum jam sudah menunjukkan angka 7 kurang lima menit, dari arah kantor sekolah suara bel bergema berulang kali, teriakan bagian pengajaran di samping kamar menambah kecemasan. Hati si santriwati semakin menciut mengingat pelajaran pertama hari ini diisi oleh wali kelas.
Beberapa buah buku sudah melekat di tangan, jilbab sudah dianggap rapih, saatnya meninggalkan kamar menuju ruang kelas. Ketika kedua kaki santriwati melangkah keluar, seekor ayam merangsek ke dalam kamar. Tidak ada seorang pun di dalam kamar, hanya dia tersisa satu yang sedang diburu waktu. Terlintas sebentar dalam benaknya untuk mengusir ayam yang sudah terlanjur dilihatnya masuk ke dalam kamar, namun kegelisahan hati memaksanya pergi. Untuk mengobati rasa bersalah yang bersarang dalam dada, logikanya berbicara 'perkara ayam bukanlah kewajibannya, toh nanti ada bulis yang suka merapihkan kamar. Biarlah si bulis yang memang sudah tugasnya mengusir ayam.' Terdengar samar nuraninya menggerutu, "gimana klo bulis tidak datang?, bisa saja ayam yang tidak pernah mengenal sopan santun itu mengacak-acak seisi kamar bahkan bisa jadi meninggalkan bekas berupa kotoran". Sambil memantapkan langkah, logika si anak perempuan yang sedang diburu waktu tegas menyatakan, 'sekalipun ayam berak di dalam kamar, bukan urusan saya toh sudah ada jadwal piket kamar'.
Degup jantungnya masih kencang saat memasuki ruang kelas. Betapa bahagianya dia, mendapatkan kursi depan yang biasa diisi ustadzah masih kosong melompong. Beberapa saat setelah dia meletakkan buku di atas meja dan mengambil posisi duduk, ustadzah baru masuk ruang kelas. Dalam benaknya terucap kalimat indah, 'Alhamdulillah, berakhir sudah perjuangan ini dengan happy ending'
Bel istirahat berdengung, ustdzah pelajaran ke tiga menguluk salam. Sebagian besar santriwati meninggalkan ruang kelas, meski ada beberapa yang masih duduk tenang menyelesaikan tulisan. Fauziah santriwati yang hampir terlambat tadi termasuk kelompok yang meninggakan ruang kelas. Perutnya keroncongan, tadi pagi belum sempat diisi. Bergegas dia ke kamar mengambil uang untuk jajan di koperasi. Sesampainya di kamar, Fauziah mendapatkan pintu lemarinya terbuka. Kecurigaan akan adanya maling terbesit begitu saja dalam benaknya. Santriwati yang sedang meraskan lapar tersebut segera melihat isi lemari. 'Arggggg... dasar ayam tidak tahu diri!' Ternyata bukan maling yang telah menjamah lemarinya, si ayam lah pelaku kejahatan itu. Seisi lemari tumpah ruah dicekeri ayam, pakaiannya belepotan tanah basah dan lebih parahnya lagi dia meninggalkan jejak yang sangat menjengkelkan dalam rupa sebuah tahi otok yang masih hangat.
Sahabat sekalian, beginilah jadinya klo kita sudah terlalu sibuk dengan urusan pribadi sehingga mengikis rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Kesibukan pribadi ternyata bisa menyebabkan ketidak pekaan yang pada akhirnya berujung pada kesulitan. Sering kali kita mengabaikan sesuatu yang dianggap menjadi kewajiban publik dengan dalil 'BUKAN URUSAN SAYA' atau 'ITU KEWAJIBAN SI ANU', padahal pada saat bersaman kita bisa berkontribusi untuk menyelesaikannya. Mungkin pada saat ini kita belum kena batunya, tapi jika hal ini terus terjadi bisa jadi kita akan kebagian batunya. So sebelum merasakan tidka enaknya 'benjol' karena kena batunya, mari kita evaluasi diri untuk kembali menumbuhkan social sense.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar