Kentut, Cerminan Mentalitas Kita
Ini pengalaman pribadi!
sebenarnya pahit untuk dikenang dan sangat sulit untuk diungkapkan.
Namun untuk sebuah niat baik agar menjadi pelajaran, maka kisah ini
saya tulis.
Bertahun-tahun saya memenuhi perintah Sang Maha Bos
(sebenarnya bukan hanya perintah, juga karena panggilan hati) untuk
berbagi ilmu dengan santri di pesantren. Telah banyak pengalaman, dari
yang baik juga yang buruk saya rasakan. Sebagian saya telan. Mungkin
sekarang sudah jadi daging. Sebagian saya buang. Berharap agar jangan
sampai terjadi lagi dalam hidup.
Dari berbagai pengalaman itu, salah satunya saya akan ceritakan di sini.
Seperti
biasa saya masuk kelas. Uluk salam, terus mulai pelajaran. Segala
sesuatu sesuai dengan rencana, dan seperti yang diharapkan. Materi
pelajaran saya terangkan. Santri diam menyimak. Tentu sebagian ada yang
sibuk menahan kepala yang bergoyang dimainkan kantuk.
Saat kondisi kelas mulai terbawa arus pelajaran, sesuatu (begitu kata
Syahrini) terjadi. Udara kelas terkena polusi. Santri mulai gelisah.
Yang duduk di kanan, menyikutkan tangan ke kiri. Yang di kiri,
memalingkan wajah ke kanan. Yang di depan, menatap sinis ke belakang.
Yang di belakang balik menatap ke depan. Saya yang paling depan mencoba
untuk tenang, namun gagal. Saya galau!
“Man yafsu? Goiru muaddab!”
Seorang santri berteriak. Teriakan seorang yang terdzolimi ini ternyata
membuat suasana semakin kacau. Satu sama lain mulai menunjukkan tangan.
Semuanya hanya tuduhan. Sedangkan yang dituduh tak bergeming.
Kemarahan mulai merambat dari ujung-ujung kaki menuju syaraf otak. Saya
merasa kurang dihargai (emangnya ikan asin ada harganya, he…). Secara
saya ini guru yang termasuk sudah lama mengajarnya di pesantren. Masa
diperlakukan seperti ini, hiks…hiks… Ego memaksa saya untuk meluapkan
amarah semarah-marahnya. Mungkin akan terjadi badai tsunami di kelas
ini. Namun saya berfikir ulang. Saya kan guru yang sudah lama ngajar,
masa harus menyelesaikan masalah dengan amarah?
“Ok
students, close your books!” saya memilih untuk tidak marah. Dalam
kepala terbersit sebuah cerita yang pernah saya dengar di acara
pertemuan pelajar se Bogor. Kebetulan saya menjadi ketua steering committee di acara tersebut.
“Ada yang tahu lambang Negara kita?” saya memulai dengan pertanyaan pancingan. Beberapa orang santri menjawab benar.
“Ada
yang tahu, kenapa burung Garuda selalu menoleh ke kanan?” semuanya
terdiam, bingung mau menjawab apa. Selama ini mereka hanya tahu garuda
adalah lambang negara, tanpa memperhatikan detailnya. Bahkan ada yang
terdengan berbisik kepada temannya,
“emang burung garuda noleh ke kanan?”
“Au…” temannya mengangkat bahu sambil memonyongkan bibirnya.
“Bener,
ga ada yang tahu?” santri mulai merenungkan garuda. Mungkin ini untuk
yang pertama kali dalam hidup mereka merenungkan arti sebuah tolehan
garuda. Sesaat kemudian mulai muncul suara-suara. Ada yang menjawab
dengan ilmiah, ada juga yang berbau filosofis. Dan kebanyakan menjawab
sekenanya. Konyol khas santri.
“Sebenarnya…” mimik muka saya
serius, mensyaratkan sesuatu yang akan disampaikan sangat penting.
Santri terbawa arus. Diam membiarkan keheningan menguasai ruang kelas.
“Tolehan kacang, eh salah burung garuda memiliki historical background”. Mendengar kata kacang, anak santri menyengirkan mulut. Namun setelah diikuti oleh kata historical background, cengiran menutup kembali secara otomatis.
“Dulu
di awal masa kemerdekaan, Presiden Soekarno pernah diundang oleh
presiden Amerika. Mengingat gengsi yang terselip dalam undangan
tersebut, pak Presiden mengajak serta burung Garuda. Beliau ingin
menunjukkan karakter bangsa yang diwakili oleh garuda.” Suasana hening,
saya pun meneruskan cerita.
“Ternyata lokasi pertemuan tersebut
di New York. Ini bukan kebetulan. New York dipilih presiden Amerika
karena alasan politis. Di kota ini ada sebuah monumen bersejarah yang
mengungkap kepribadian bangsa Amerika.”
“Ada yang tahu nama monumen itu”
“Liberty, yah?” meski tampak ragu, jawaban seorang santri itu tepat. Patung Liberty!
“Pertemuan
itu berlangsung sangat khidmat. Presiden Amerika menunjukkan rasa
hormatnya kepada Bung Karno yang terkenal sebagai Macan Asia (tepatnya
Asia Tenggara). Pun demikan Bung Karno menghormati Presiden Amerika
sebagai kepala suku Blok Barat. Karena Indonesia penggagas Non Blok,
kemana pun selalu ‘duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi’ dengan
bangsa lain.”
“Gimana, diteruskan?”
“Terus…” suara santri
terdengar serempak bagai team paduan suara. (klo terusnya tiga kali
bukan paduan suara lagi, tapi tukang parkir. he…)
“Kekhidmatan
pertemuan antara dua kepala negara tiba-tiba diinterupsi oleh sebuah
suara asing. Suara itu berbunyi nyaring, ‘duuuttt’. Sebagai tamu, Bung
Karno merasa tidak enak hati. Beliau langsung berdiri, menuduhkan
telunjuk ke arah burung garuda. Posisi berdiri dan gayanya persis
seperti patung beliau di pintu gerbang bandara internasional
Sukarno-Hatta.” (setiap kali saya masuk bandara SOETTA dan mengingat
cerita ini, pasti saya tersenyum geli. Bung Karno ternyata sampai
sekarang masih konsisten menegur rakyat Indonesia yang suka kentut
sembarangan. Hik…hik…, malu sendiri)
“Melihat kemarahan Sang
Proklamator tertuju kepadanya, burung garuda yang dari tadi berdiri
tegak dengan kepala menghadap ke depan merubah posisi. Garuda menoleh
ke kanan, dengan sangat perlahan. Seolah dia berkata lirih, ‘bukan saya
yang kentut’.” Ha…ha…, wakakkkakkkkk… anak santri tertawa lepas. Ada
yang sambil memegang perut, mungkin karena geli. Ada yang menepuk-nepuk
pundak temannya. Ada yang menutupkan ke dua tangan ke depan mulut, yang
ini pasti belum gosok gigi.
Semuanya tertawa bahagia,
menertawakan ketidak-berdayaan garuda yang padahal adalah lambang
kepribadian kita juga. Ini jenis tawa yang tidak biasa. Tawa tipikal
orang-orang yang dalam hidup sering tertekan. Menertawakan
ketidak-berdayaan sendiri menjadi pilihan baik, dari pada selalu
menjadi bahan tertawaan orang lain. Prinsipnya, masa orang terus yang
bisa menertawakan kita, kita juga bisa menertawakan diri sendiri. Miris!
Dan
lebih miris lagi, saya yakin diantara santri yang tertawa terselip
seorang pelaku kentut di kelas. Pelaku yang sampai cerita ini ditulis
masih belum ngaku.
“Tuduhan telunjuk Bung Karno yang dibalas
dengan pemalingan wajah Garuda tidak menyelesaikan masalah tamu yang
tak diundang. Tamu yang bersuara namun tak berwujud itu masih
meninggalkan sisa. Polusi udara yang membuat hidung tersumbat merupakan
sisa bau yang masih membuat masalah.” Anak santri mulai serius kembali,
sisa tawa mereka simpan balik di bilik dada.
“Keadaan tanpa
solusi ini membuat patung Liberty bertindak. Dia yang dari tadi menjadi
pendengar setia sambil membawa obor (takut mati lampu… he…
www.ngarang.cm), langsung mengangkat tangan ke udara. Seolah dia
berkata, “saya yang kentut”. Suatu tindakan yang berani dan patut
diapresiasi.” Prok…prok…prok…tepuk tangan bergemuruh di kelas. Semua
santri senang. Yang kentut masih juga tenang.
kayanya aku pernah baca cerita ini di suatu buku deh..
BalasHapus