Jumat, 17 Februari 2012

Siapa yang Kentut?

Kentut, Cerminan Mentalitas Kita
Ini pengalaman pribadi! sebenarnya pahit untuk dikenang dan sangat sulit untuk diungkapkan. Namun untuk sebuah niat baik agar menjadi pelajaran, maka kisah ini saya tulis.
Bertahun-tahun saya memenuhi perintah Sang Maha Bos (sebenarnya bukan hanya perintah, juga karena panggilan hati) untuk berbagi ilmu dengan santri di pesantren. Telah banyak pengalaman, dari yang baik juga yang buruk saya rasakan. Sebagian saya telan. Mungkin sekarang sudah jadi daging. Sebagian saya buang. Berharap agar jangan sampai terjadi lagi dalam hidup.
Dari berbagai pengalaman itu, salah satunya saya akan ceritakan di sini.
Seperti biasa saya masuk kelas. Uluk salam, terus mulai pelajaran. Segala sesuatu sesuai dengan rencana, dan seperti yang diharapkan. Materi pelajaran saya terangkan. Santri diam menyimak. Tentu sebagian ada yang sibuk menahan kepala yang bergoyang dimainkan kantuk.
          Saat kondisi kelas mulai terbawa arus pelajaran, sesuatu (begitu kata Syahrini) terjadi. Udara kelas terkena polusi. Santri mulai gelisah. Yang duduk di kanan, menyikutkan tangan ke kiri. Yang di kiri, memalingkan wajah ke kanan. Yang di depan, menatap sinis ke belakang. Yang di belakang balik menatap ke depan. Saya yang paling depan mencoba untuk tenang, namun gagal. Saya galau!
          “Man yafsu? Goiru muaddab!” Seorang santri berteriak. Teriakan seorang yang terdzolimi ini ternyata membuat suasana semakin kacau. Satu sama lain mulai menunjukkan tangan. Semuanya hanya tuduhan. Sedangkan yang dituduh tak bergeming.
          Kemarahan mulai merambat dari ujung-ujung kaki menuju syaraf otak. Saya merasa kurang dihargai (emangnya ikan asin ada harganya, he…). Secara saya ini guru yang termasuk sudah lama mengajarnya di pesantren. Masa diperlakukan seperti ini, hiks…hiks… Ego memaksa saya untuk meluapkan amarah semarah-marahnya. Mungkin akan terjadi badai tsunami di kelas ini. Namun saya berfikir ulang. Saya kan guru yang sudah lama ngajar, masa harus menyelesaikan masalah dengan amarah?
          “Ok students, close your books!” saya memilih untuk tidak marah. Dalam kepala terbersit sebuah cerita yang pernah saya dengar di acara pertemuan pelajar se Bogor. Kebetulan saya menjadi ketua steering committee di acara tersebut.
“Ada yang tahu lambang Negara kita?” saya memulai dengan pertanyaan pancingan. Beberapa orang santri menjawab benar.
“Ada yang tahu, kenapa burung Garuda selalu menoleh ke kanan?” semuanya terdiam, bingung mau menjawab apa. Selama ini mereka hanya tahu garuda adalah lambang negara, tanpa memperhatikan detailnya. Bahkan ada yang terdengan berbisik kepada temannya,
“emang burung garuda noleh ke kanan?”
“Au…” temannya mengangkat bahu sambil memonyongkan bibirnya.
“Bener, ga ada yang tahu?” santri mulai merenungkan garuda. Mungkin ini untuk yang pertama kali dalam hidup mereka merenungkan arti sebuah tolehan garuda. Sesaat kemudian mulai muncul suara-suara. Ada yang menjawab dengan ilmiah, ada juga yang berbau filosofis. Dan kebanyakan menjawab sekenanya. Konyol khas santri.
“Sebenarnya…” mimik muka saya serius, mensyaratkan sesuatu yang akan disampaikan sangat penting. Santri terbawa arus. Diam membiarkan keheningan menguasai ruang kelas.
“Tolehan kacang, eh salah burung garuda memiliki historical background”. Mendengar kata kacang, anak santri menyengirkan mulut. Namun setelah diikuti oleh kata historical background, cengiran menutup kembali secara otomatis.
“Dulu di awal masa kemerdekaan, Presiden Soekarno pernah diundang oleh presiden Amerika. Mengingat gengsi yang terselip dalam undangan tersebut, pak Presiden mengajak serta burung Garuda. Beliau ingin menunjukkan karakter bangsa yang diwakili oleh garuda.” Suasana hening, saya pun meneruskan cerita.
“Ternyata lokasi pertemuan tersebut di New York. Ini bukan kebetulan. New York dipilih presiden Amerika karena alasan politis. Di kota ini ada sebuah monumen bersejarah yang mengungkap kepribadian bangsa Amerika.”
“Ada yang tahu nama monumen itu”
“Liberty, yah?” meski tampak ragu, jawaban seorang santri itu tepat. Patung Liberty!
“Pertemuan itu berlangsung sangat khidmat. Presiden Amerika menunjukkan rasa hormatnya kepada Bung Karno yang terkenal sebagai Macan Asia (tepatnya Asia Tenggara). Pun demikan Bung Karno menghormati Presiden Amerika sebagai kepala suku Blok Barat. Karena Indonesia penggagas Non Blok, kemana pun selalu ‘duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi’ dengan bangsa lain.”
“Gimana, diteruskan?”
“Terus…” suara santri terdengar serempak bagai team paduan suara. (klo terusnya tiga kali bukan paduan suara lagi, tapi tukang parkir. he…)
“Kekhidmatan pertemuan antara dua kepala negara tiba-tiba diinterupsi oleh sebuah suara asing. Suara itu berbunyi nyaring, ‘duuuttt’. Sebagai tamu, Bung Karno merasa tidak enak hati. Beliau langsung berdiri, menuduhkan telunjuk ke arah burung garuda. Posisi berdiri dan gayanya persis seperti patung beliau di pintu gerbang bandara internasional Sukarno-Hatta.” (setiap kali saya masuk bandara SOETTA dan mengingat cerita ini, pasti saya tersenyum geli. Bung Karno ternyata sampai sekarang masih konsisten menegur rakyat Indonesia yang suka kentut sembarangan. Hik…hik…, malu sendiri)
“Melihat kemarahan Sang Proklamator tertuju kepadanya, burung garuda yang dari tadi berdiri tegak dengan kepala menghadap ke depan merubah posisi. Garuda menoleh ke kanan, dengan sangat perlahan. Seolah dia berkata lirih, ‘bukan saya yang kentut’.” Ha…ha…, wakakkkakkkkk… anak santri tertawa lepas. Ada yang sambil memegang perut, mungkin karena geli. Ada yang menepuk-nepuk pundak temannya. Ada yang menutupkan ke dua tangan ke depan mulut, yang ini pasti belum gosok gigi.
Semuanya tertawa bahagia, menertawakan ketidak-berdayaan garuda yang padahal adalah lambang kepribadian kita juga. Ini jenis tawa yang tidak biasa. Tawa tipikal orang-orang yang dalam hidup sering tertekan. Menertawakan ketidak-berdayaan sendiri menjadi pilihan baik, dari pada selalu menjadi bahan tertawaan orang lain. Prinsipnya, masa orang terus yang bisa menertawakan kita, kita juga bisa menertawakan diri sendiri. Miris!
Dan lebih miris lagi, saya yakin diantara santri yang tertawa terselip seorang pelaku kentut di kelas. Pelaku yang sampai cerita ini ditulis masih belum ngaku.
“Tuduhan telunjuk Bung Karno yang dibalas dengan pemalingan wajah Garuda tidak menyelesaikan masalah tamu yang tak diundang. Tamu yang bersuara namun tak berwujud itu masih meninggalkan sisa. Polusi udara yang membuat hidung tersumbat merupakan sisa bau yang masih membuat masalah.” Anak santri mulai serius kembali, sisa tawa mereka simpan balik di bilik dada.
“Keadaan tanpa solusi ini membuat patung Liberty bertindak. Dia yang dari tadi menjadi pendengar setia sambil membawa obor (takut mati lampu… he… www.ngarang.cm), langsung mengangkat tangan ke udara. Seolah dia berkata, “saya yang kentut”. Suatu tindakan yang berani dan patut diapresiasi.” Prok…prok…prok…tepuk tangan bergemuruh di kelas. Semua santri senang. Yang kentut masih juga tenang.

1 komentar: